Monday, August 25, 2014

Pantai Padang-Padang

Puas bermain di Pantai Pandawa, kami berpindah ke pantai selanjutnya, Pantai Padang-Padang. Berbeda dengan Pantai Pandawa, di sini kita hanya membayar tarif parkir saja. Begitu masuk gapura, kita harus melewati beberapa anak tangga untuk sampai ke pantai. Selain itu, ada jalan yang sangat sempit karena dihimpit oleh batu karang yang besar. Sampai-sampai kita harus berjalan bergantian untuk melewatinya. Memasuki area pantai, kita malah merasa asing di sini, karena di pantai dipenuhi oleh turis-turis asing yang sedang berjemur. Maklum, waktu itu pukul 2 siang, matahari lagi panas-panasnya. Keunggulan pantai ini ialah banyaknya karang besar yang sangat keren untuk diabadikan. Ombaknya juga cukup besar. Beberapa wisatawan memanfaatkannya untuk surfing.

Gapura masuk
Akses menuju pantai yang sempit
Suasana pantai

Saturday, August 23, 2014

Pantai Pandawa

Trip selanjutnya kita mengunjungi salah satu pantai yang terbilang baru. Yah, Pantai Pandawa menyuguhkan laut dengan warna biru yang mempesona. Bisa langsung jatuh cinta loh pas baru pertama kali sampe sana. Memasuki wilayah Pantai Pandawa ini, kita melewati berpetak-petak tanah yang masih kosong dan jarang pemukiman. Setelah membayar tiket masuk, kita bisa melihat-lihat beberapa patung tokoh-tokoh dalam Mahabharata dengan ukuran raksasa yang diletakkan di gua-gua sepanjang jalan menuju pantai.
Selain warna lautnya yang keren banget, di sana juga ada tebing-tebing keren kalo buat selfie. Malah pas aku ke sana, ada satu pemotretan pre-wedding gitu. Anehnya di pantai ini tuh, air lautnya dingin loh. Beda kan sama pantai-pantai lain. Eh, iya! Di sini kalian juga bisa nyewa canoe loh. Ato kalo pengen sekedar bersantai bisa menyewa kursi-kursi atau menikmati jasa pemijatan yang ada.





Sunday, August 17, 2014

Ambigu

I might too young to talk 'bout Love. Yeah, L-O-V-E. People say that we can't live without love.
Banyak frasa dan peribahasa tentang cinta. Namun aku sendiri tidak punya banyak pengalaman tentang cinta. Kecuali cintaku untuk Ibu, dan cinta pertamaku untuk Bapak.
Aku pernah pacaran. Beberapa kali. Paling lama 1,5 tahun ingatku. Pacar pertamaku. Setelah itu entah kenapa tak pernah lebih dari 5 bulan saja, sudah berakhir. Menyesal? Tidak. Bersama mereka, mengajariku bagaimana bertoleransi atas perbedaan yang kami punya. Ya, tak mungkin individu satu dengan yang lain sama persis. Dan kurasa perbedaan paling besar yang tak bisa dimaklumi adalah misi.
Pernah pacaran bukan berarti itu benar-benar cinta. Aku tak tau bagaimana rupanya cinta. Kalau yang ku tau dari beberapa film yang pernah kulihat, cinta itu alasan kau dengan mudahnya mencuri kesempatan untuk mengajak seseorang berkencan, memegang tangannya, memeluknya, dan bisa kau bayangkan sendiri bagaimana selanjutnya.
Aku juga tak pernah merasa hebat ketika beberapa orang mengutarakan perasaannya kepadaku. Bukan tidak menghargai. I did appreciate their courage. Tapi bagaimana bisa aku merasa spesial bila aku tau ternyata di lain sisi ada dari mereka juga menyatakan untuk wanita lain. Ada pula yang sekedar menguji bagaimana responku atas pernyataannya. Yang lain pula tiba-tiba menghilang karena aku tak bisa membalas perasaannya. Itukah cinta? Is that true love?
Terlalu panjang pembukaan ini. Aku malah curhat tentang masa lalu. Okey. Aku akan berbicara tentang saat ini. Hatiku kosong. Bukan kosong sebenarnya, hanya saja aku tak bisa mendefinisikan apa yang kurasa. Dan aku terlalu takut menyebutnya cinta.
Melewatkan waktu bersamanya menjadi satu hal yang aku nantikan. Dia tiba-tiba menjadi prioritas. Namun tak jarang juga dia hilang dari otak. Menulis ini pun otakku masih berkelit sebenarnya dia itu apa untukku. Yang jelas, aku tidak pernah tahan untuk tidak segera membalas pesan darinya. Namun aku juga tak mencari bila tak ada pesan satu pun darinya. Dalam beberapa hari pun. Otakku seperti di-setting, bila dia butuh, silakan datang, bila tidak ya sudah. Tak kutampik sih, kalau aku merasa terbang ke langit ke tujuh bila ada kabar darinya.
Hari lahirnya juga menjadi hari spesial untukku. Aku bingung bagaimana untuk mengucapkan selamat. Ya. Sekedar ucapan selamat aku harus write-delete-write-delete dan itu berulang-ulang. Tombol send juga sempat terabai hanya untuk menyaksikan 2 sisi diriku yang berbisik "sudah kirim aja" dan "jangan dikirim, iya kalo dia seneng sama ucapanmu". Seperti orang bodoh. Bengong di depan ponsel. Dan dengan mata tertutup kukirim juga pesan ucapan selamat itu.
Hei! Menurutmu apa ini cinta? Atau ini sekedar rasa yang sepatutnya diberikan kepada seorang sahabat? Sahabat? Aku masih tak mengerti. Aku tak mengerti bagaimana namanya tersebut dalam doa setiap aku hendak tidur. Bukan tersebut. Terselip di dalam hati. Jadi begini doaku:
"Tuhan, Kau tau sekecil apapun yang ada di dunia yang Kau ciptakan ini. Bahkan untuk sesuatu yang hamba-Mu lihat dengan teknologi canggih. Namun ini masalah hati, Tuhan. Hanya Kau yang tahu apa maunya hati ini. Bila benar ini cinta, buatlah aku cinta padanya yang menuntunku ke jalan-Mu. Ya. Dia yang berada dalam salah satu celah di otakku. Jika ternyata bukan dia, Tuhan, kumohon pertemukan dan sandingkanlah aku, dengan hambamu yang berkepribadian seperti dia. Aku nyaman bersamanya. Terima kasih, Tuhan."

Pages