Friday, July 11, 2014

Foto Keluarga

Bulan April lalu, Mbah Kakung (Kakek) saya berulang tahun. Biasanya kita hanya mengadakan acara doa bersama yang dilanjutkan dengan makan bersama anak dan cucu mbah. Kali ini, kami para cucu, Cumad (Cucunya Mbah Mad), ingin memberi sebuah kado yang sederhana. Akhirnya kami memutuskan untuk memberi sebuah foto yang dicetak besar dan piguranya, untuk kemudian dipajang di ruang tamu rumah mbah. Dan alhamdulillah Mbah suka sekali dengan foto itu. Sayangnya tidak semua cucu ikut, karena masalah waktu dan ada salah satu adik sepupuku yang rewel.

Atas: Mb. Riza - Mb. Insak - Mb. Nay - aku - Mb. Yunda
Tengah: Mas Aris - Mb. Lintang - Mas Pungky
Bawah: Vira - Rizqu - Romi - Riyo - Rama


I love this pict. tapi sayang si Rizqu ketutup boneka yah


Sajak Dingin

2:18
jika saja kau tahu, lewat udara pagi buta aku sisipkan sebuah kalimat untukmu. kau dengar? tentu saja tidak. mendengarpun sepertinya malah kau akan jauh dariku.
pernah berpikir ingin aku utarakan semua yang mengusik tidur malamku. membayangi di setiap sujud dan takbirku ketika menghadap-Nya. tidak bisa! bisa saja kau malah pergi. biar begini, asal kau di sini.

Tuesday, July 01, 2014

Let Me Be Your Star

Izinkan aku menjadi bintangmu
Izinkan aku menjadi satu-satunya yang menyinarimu
Izinkan aku menjadi satu yang menemani malammu
Yang dingin, kelam, dan sepi ...

Hei! Entah kenapa otakku gemar sekali memutar memori tentangmu. Semua dialog bersamamu terdengar lagi di telingaku. Ingat tidak? Malam itu kau bilang kau ingin selalu membawaku kemanapun, karena aku berguna untukmu. Malam itu kita bertukar cerita, tertawa bersama, bahkan tanpa ada namanya yang kau sebut. Pagi itu kulihat betapa kau mengkhawatirkanku yang hampir saja tak bisa bernapas, memberi kehangatan dengan jaketmu, padahal aku tahu, kaupun sebenarnya merasa sangat menggigil. Kau pahlawan yang hebat. Siang itu aku melihat bagaimana kau peduli dengan saudaramu, kau tak ingin hal buruk terjadi pada orang yang (sebenar-benarnya) kau sayangi. Tidak, itu tidak jahat. Itu terlihat manis di mataku. Sore itu, aku tahu kau benar-benar akan meminjamkan pundakmu jika aku butuh. Dan hingga malam datang kembali, kau tunjukkan padaku bagaimana sebenarnya seorang laki-laki bertanggung jawab harus bertindak.

Hanya satu yang kurang. Yakni, kau bukan milikku. Meski setiap ku memanggilmu, kau ada. Namun yang ada di dompetmu, bukan fotoku. Yang terpampang di telepon genggammu bukan kita. Dan yang ada di hatimu, juga bukan aku.

Hei!
Kau lihat bintang-bintang ini?
Mungkin kini kau punya satu bintang
Namun aku janji akan menjadi bintangmu suatu saat nanti
Kuberikan kau hidup yang penuh senyuman, tawa, dan harmoni
Tidak monoton seperti yang biasa kau rasakan ... :)

Pages